Berharap Istimewa di dalam Dinamika Alam Semesta
Astronomi

Berharap Istimewa di dalam Dinamika Alam Semesta

ZidanRasyidi
11 Jun 2026
~ 5 menit
18 views

Manusia selalu berfikir bahwa alam semesta memang diciptakan untuk kita, setidaknya itulah yang difikirkan oleh para ilmuwan sebelum abad ke 15, dengan melihat bahwa bulan, matahari, bintang dan benda langit lainnya berputar mengelilingi bumi yang merupakan rumah dari ummat manusia, ini adalah konsep Geosentris yang diusulkan oleh Claudius Ptolmeus.

Rumah kita tidak diam

Anggapan seperti itu terus dipercayai sampai pada abad ke 16 seorang astronom bernama kopernikus memperhatikan dan mengamati pola gerak benda-benda langit dan menyimpulkan bahwa tidak seharusnya benda-benda itu mengelilingi kita. Sampai kemudian diperkuat oleh seorang astronom bernama galileo galilei yang pertama kali menggunakan teleskop untuk pengamatan langit melihat terdapat fase-fase yang berulang dan berkala pada planet venus, dengan demikian kopernikus mencapai suatu kesimpulan bahwa bumi tempat yang kita tinggali ini sebenarnya tidak diam dan mengelilingi matahari.

Kopernikus kemudian menuliskan hasil temuannya dan menyampaikan kepada publik, bukan kegembiraan atas penemuan baru yang didapatkan melainkan tuduhan "dusta" karena telah melanggar "hukum" gereja saat itu. Beberapa abad kemudian semakin banyak bukti yang mendukung konsep kopernikus yang membuat orang akhirnya menemukan kebenaran melalui fakta ilmiah bahwa bumi kita tidak diam.

Letak kita tidak istimewa

Namun meski begitu, manusia tetap menganggap meskipun bumi tidak istimewa namun setidaknya letak sistem tata surya kita harusnya berada di pusat jagat raya karena begitu kita mengamati langit malam yang gelap semua bintang tampak begitu banyak dari semua penjuru yang bisa kita lihat. Barulah ketika para astronom melakukan pengukuran gelombang radio mereka menemukan bahwa letak tata surya bukanlah di pusat "jagat raya" melainkan berada di tepiannya.

Meski bumi bukan pusat segalanya dan sistem tata surya dimana bumi berada juga bukan pusat jagat raya, manusia tetap berusaha mencari temuan baru yang menggembirakan. Beberapa ilmuwan terutama Thomas Wright mengusulkan alam semesta terdiri dari banyak "pulau" yang setiap pulau memiliki gugusan bintangnya sendiri, ya, dan pengamatan yang dilakukan oleh Edwin Hubble membuktikan anggapan itu bahwa ternyata ada banyak "alam semesta" lagi di luar sana.

Keistimewaan yang terus menjauh

Bumi yang terletak di tepian "alam semesta" ternyata terletak hanya di sebuah galaksi yang bernama bima sakti dan diluar sana masih banyak lagi galaksi-galaksi lain yang berpotensi untuk terus ditemukan. Dan lagi-lagi manusia berharap bahwa setidaknya, mungkin, galaksi bima sakti tempat tinggal tata surya dan bumi kita ini berada di tengah-tengah galaksi-galaksi tersebut, namun naas-nya, faktanya tidak.

Para astronom masih berusaha memahami dengan baik dinamika alam semesta kita yang mencapai suatu kesimpulan bahwa sebenarnya galaksi-galaksi itu saling menjauh satu sama lain, termasuk galaksi kita bima sakti. Ini membuktikan bahwa galaksi kita tidak diam, tidak juga berada di alam semesta, galaksi kita ini bergerak menjauh dari suatu titik yang diduga kuat menjadi asal usul alam semesta. jadi sampai detik ini, anggapan kita sebagai mahluk istimewa dengan lokasi dan waktu yang istimewa juga setidaknya belum bisa dibuktikan secara ilmiah oleh sains. Selanjutnya, akankah kita berharap lagi demi anggapan keistimewaan kita di alam semesta ini ?

Pembahasan ini ialah ringkasan ulang dari salah satu bagian bab dalam buku yang berjudul "Jatuh ke Lubang Hitam" karya Neil de Grasse Tyson, seorang astrofisikawan dari Amerika.

Tags:

Bagikan Artikel

ZidanRasyidi

Zidan Rasyidi Lazuardani

Penulis

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!